Showing posts with label Soto. Show all posts
Showing posts with label Soto. Show all posts

Wednesday, 22 August 2018

Soto Ayam Bening

Soto Ayam Bening

Ini menu masakanku kemarin. Soto ayam yang sederhana banget bumbunya, tapi gurih dan enak. Awalnya aku kuatir suami dan anakku nggak mau, karena mereka terbiasa dengan soto a la Surabaya atau Lamongan yang banyak bumbunya. Tapi ternyata suka malah bilang enak dan segar.

Resepnya hasil ngintip IG mbak @bunda_didi dan aku hanya sesuaikan jumlahnya saja.

Soto Ayam Bening
Resep : Diah Didi
Recook : Hanna @keluargacinta

Bahan :

Aku : +/- 750 gram ayam
800 ml kaldu ayam bening dari 1 ekor ayam pejantan.  (aku pakai kaldu ayam bubuk)
2 lembar daun jeruk
2 cm lengkuas , memarkan
1 batang sere, memarkan
1/2 sendok teh kaldu ayam bubuk (aku 1 sdm kaldu bubuk)
garam secukupnya
1 sendok teh gula pasir
1 sendok makan kecap manis (aku nggak pakai)

Bumbu halus :
3 butir bawang merah (aku 6)
2 siung bawang putih (aku 4)
1/4 sendok teh merica butiran (aku 1/2)
2 cm kunyit, bakar dan geprek saja..tanpa di ulek biar warnanya nggak terlalu kuning kuahnya.

Cara membuat :

Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan air kaldu dan bumbu2 lain. Masak hingga meresap. Koreksi rasa. Susun bahan2 pelengkap soto di mangkuk, tuangi kuah soto.

Aku : tumis bumbu halus, daun jeruk,daun sereh, lengkuas, kunyit hingga harum, masukkan ayam, aduk sebentar. Tambahkan air +/- 3 liter, kaldu bubuk dan garam, rebus sampai empuk dan meresap. Angkat ayam, lalu goreng. Kuahnya diberi potongan daun bawang. Sajikan dengan soun,rebusan taoge, cabe rawit, seledri, jeruk nipis dan bawang goreng.

#sotoayambening
#resepkeluargacinta

Monday, 1 January 2018

Soto Daging Semarangan a la Keluarga Cinta

Soto Daging Semarangan a la Keluarga Cinta

Seperti biasa kalau habis mudik ke Semarang, euphoria makanan khasnya masih bertahan di hatiku selama beberapa hari, bahkan minggu,  ke depan.

Bukannya aku menganggap masakan Surabaya tidak enak ya,  tapi taste antara masakan Jawa Tengah dan Jawa Timur memang berbeda. Kalau soto di Jawa Tengah,  tepatnya Semarang,  umumnya ringan dan gurih, beberapa jenis soto ada rasa manis.  Kuahnya pun cenderung bening. Kalau soto daging,  yang ada di dalam kuah biasanya hanya daging.  Sedangkan jerohannya dimasak terpisah seperti dibacem.  Kalau kita mau,  tinggal dipotong potong dan disajikan dengan kecap manis dan bawang goreng di mangkok kecil. Mayoritas orang menambahkan kecap manis lagi di sotonya. 

Waktu aku kecil,  Bu Jajik,  tetangga kami di Candi Lama punya warung soto daging yang menurutku waktu itu, dan dalam kenanganku sampai sekarang, enak. Kalau kebetulan Mami tidak masak, kami sering beli sotonya.  Kuahnya selalu banyak, bening berkecap, dagingnya pakai daging tetelan, ada potongan tomat dan taburan bawang gorengnya banyak banget.  Sedap dan segar sekali.

Aku coba browsing resep soto apa punya bu Jajik ini tapi belum pernah ketemu yang pas. Mungkin resep karangan beliau sendiri 😀

Nah, kali ini aku coba bikin soto daging yang rasanya gurih dan light,  tidak terlalu banyak bumbu rempah. Kalau suka manis,  tambahkan gula pasir.  Aku tidak menambahkan karena berbeda dengan aku,   suami dan anakku tidak suka masakan yang manis 😀

Nggak berani claim ini mirip warung soto manapun di Semarang ya, takut keliru 😀,  tapi buat aku ini sudah pas sebagai pengobat rindu pada soto daging Semarangan.

Soto ini tambah enak kalau sudah menginap dan jangan pakai nasi yang punel.

Bahan :

750 gr daging potong kecil sesuai selera. (Aku pakai kisi)
3 cm jahe, geprak ringan
3 cm lengkuas,  geprak ringan
5 lembar daun jeruk
1 batang sereh geprak ringan
Garam
Kaldu bubuk
Penyedap rasa (vetsin)
Gula pasir (kalau suka agak manis)
Minyak untuk menumis
Air secukupnya.

Bumbu yang dihaluskan :
12 bawang merah
6 bawang putih
3 kemiri
1/2 sdt merica

Perlengkapan lain :
Bawang merah goreng
Bawang putih goreng
Daun prei, sebagian rajang halus, sebagian rajang kasar
Seledri rajang halus. Sisihkan gagangnya.
Jeruk nipis
Tomat potong potong
Cabe rawit dikukus sebentar
Taoge rendam dengan air panas sampai layu, lalu ditiriskan

Cara membuat :

Rebus daging sampai mendidih
Sementara itu, tumis bumbu halus, jahe,  sereh dan lengkuas dengan api kecil sampai matang dan wangi
Masukkan bumbu ke dalam rebusan daging
Masak sampai daging empuk baru masukkan garam,  penyedap, kaldu bubuk dan gula pasir. Rebus lagi sampai meresap.  Tambahkan gagang seledri,daun bawang prei dan bawang goreng.

Penyajian :

Gerus cabe rawit di dasar mangkok, masukkan nasi,  beri taoge dan potongan tomat, siram dengan kuah dan daging.  Taburi bawang merah dan bawang putih goreng, seledri dan rajangan bawang prei.  Beri jeruk nipis dan kecap manis kalau suka. Sajikan dengan perkedel kentang.

Perkedel kentang :

Kentang, kupas,  potong,  goreng sampai matang.
Haluskan kentang waktu masih panas dan tambahkan garam, merica, pala bubuk, bawang goreng dan rajangan seledri. Aduk rata. Bulat bulatkan,  masukkan dalam kocokan putih telur,  lalu goreng dengan api kecil.

#resepkeluargacinta
#sotodagingsemarang

Sunday, 18 September 2016

A la Soto Banjar Keluarga Cinta

Aku suka aneka jenis sup dan soto...salah satunya Soto Banjar. Menurutku Soto ini khas, dengan wangi rempah, kuah yang ringan dan sedap.  Enak dimakan dengan ketupat atau lontong, tapi kalau mau pakai nasi juga ok kok.

Berkali kali aku berencana untuk membuat nya sendiri tapi baru kesampaian hari ini. Padahal jumat kemarin sudah makan Soto Banjar pak Kumis di jalan Ngagel yang menurutku cukup mantap 😂. Beli memang mudah, tapi bisa masak sendiri tentunya lebih memuaskan..setuju?

Karena rencana sudah lama, tentunya aku sudah punya koleksi reaepnya...biasa, hasil browsing dari internet. Ada beberapa resep yang aku dapat, dan benang merahnya adalah keberadaan kapulaga, cengkih dan kayu mania. Ada resep yang pakai susu ada yang tidak.

Berbekal resep resep tersebut, aku buat sedikit penyesuaian dengan lidahku dan inilah resepnya. Oiya, aku pakai susu ya, tidak banyak. Kalau tidak mau susu, skip aja.

a la Soto Banjar Keluarga Cinta

1 ekor ayam kampung, cuci bersih, potong jadi 4 bagian
3 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1 lonjor (kurleb10 cm) kayu manis
7 biji cengkeh
5 cm jahe, kupas, memarkan
3 butir kapulaga (cardimon)
1/2 sdt pala bubuk
1/2 sdt merica
3 sdt kaldu bubuk/garam (sesuaikan dengan selera)
3 liter air
200ml susu ultra putih

Haluskan: 
10 butir bawang merah
5 butir bawang putih

Perkedel kentang: 
3 kentang besar, kupas,potong, goreng sampai matang
1/2 sdt kaldu bubuk/garam 
Seujung sendok pala bubuk
Seujung sendok merica bubuk
Sedikit daun seledri, rajang kasar
1 putih telur kocok lepas
Minyak untuk menggoreng

Cara membuat Perkedel 
Panas panas haluskan kentang, campur dengan semua bahan kecuali putih telur
Bulat bulatkan sesuai selera
Panaskan minyak goreng di wajan 
Celupkan perkedel ke dalam kocokan putih telur goreng sampai kekuningan. Jangan sering di bolak balik supaya tidak hancur

Condiment: 
Seledri rajang kasar
Daun bawang rajang kasar
Jeruk nipis/jeruk purut/jeruk sambal 
Cabe rawit ulek
Bawang  goreng 
Soun direndam dengan air panas lalu tiriskan
Telur rebus
Lontong /ketupat

Cara membuat:  
1. Rebus air,  daun salam, jahe, kapulaga, daun jeruk, cengkih, kayu manis sampai mendidih
2. Masukkan ayam dan kaldu bubuk, rebus sampai ayam empuk. Angkat ayam, goreng sebentar , suwir suwir
3. Di tempat terpisah, tumis campuran bawang merah dan putih halus sampai wangi. Masukkan ke dalam  kuah,  rebus lagi kurang lebih 10 menit. 
4. Terakhir masukkan susu dan didihkan dengan api kecil selama 5 menit. Cicipi rasanya. Kalau sudah enak, matikan api.

Penyajian: 
Potong potong lontong/ketupat.  Beri soun, suwiran ayam, kuah, daun seledri dan daun bawang, telur, perkedel dan terakhir taburi bawang goreng. Kucuri jeruk dan cabe giling sesuai selera.

#untuk kurang lebih 6 porsi.

Di piring kecil di gambar, aku sertakan juga foto kapulaga, kayu manis dan cengkeh...kali aja ada yang perlu...😉. Eh, kapulaganya bisa pakai yang bulat bisa pakai seperti yang di fotoku ya..tapi kata ibu yang jualan, kalau buat masak pakai yang lonjong (Arab), kalau buat jamu, pakai yang bulat.

Saturday, 16 July 2016

Soto Betawi...




Aku salah satu penggemar Sup Kaki Kambing. Kalau di Surabaya ada warung Sup Kaki Kambing Bang Jangkung...rasanya paling enak  menurutku, tidak prengus, apalagi sekarang dia tidak hanya menyediakan kaki kabing tapi juga kaki sapi. Sayangnya lokasinya jauh dari rumahku.

Beberapa waktu yang lalu aku ngidam banget sama sup ini tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, ngidamku tidak juga terpenuhi. Kemudian Mader Nana, my beloved friend cerita kalau beliau membuat Soto Betawin dengan menggunakan bumbu instant dan rasanya enak...jadi aku terinspirasi dan akhirnya aku ikutan buat. Apa beda Sup dan Soto Betawi? Di dapurku sama aja..sama sama enak..jadi, inilah resep  yang aku pakai, dan hasilnya...enyak ! :)

Bahan:
2 bungkus bumbu instant Soto Betawi (saya pakai merk Bamboe)
1/2 kg paru sapi, potong, rebus buang airnya
1/2 kg daging sapi yang agak berlemak, potong, rebus, simpan kaldunya +/- 2 liter
5 biji cengkeh
1/2 sdt merica
1/4 sdt pala bubuk
Garam/kaldu bubuk secukupnya
1 lt susu Ultra plain

Pelengkap:
Emping goreng
Tomat potong kotak kecil
Daun bawang prei rajang kasar
Jeruk sambal ambil airnya
Cabe rawit gerus
Kecap manis (kalau suka)
Bawang goreng

Cara membuat:
Rebus paru, daging, cengkeh dalam kaldu sampai empuk.
Tambahkan merica, pala, dan garam atau kaldu bubuk sesuai selera, rebus lagi sampai meresap. Terakhir,masukkan susu. Biarkan mendidih sekali lagi.
Masukkan tomat dan bawang prei sebentar sebelum diangkat.
Sajikan dengan cabe rawit, air jeruk, kecap manis,bawang goreng dan emping

*tomat dan bawang prei dimasukkan hanya dalam porsi yang akan dimakan supaya tetap crunchy.

Tuesday, 28 April 2009

Resep soto Madura a la Keluarga Cinta




Ini soto favorite Pok. Isinya murni jerohan sapi. Ada jantung, hati, usus, paru dan babat. Kalau beli di warung soto Madura di Surabaya, potongan jerohannya kecil kecil sekali dan cuma beberapa biji aja dan rasanya jarang ada yang benar benar mantap. Malah Pok - yang pernah lama tinggal di Semarang - heran, kenapa soto Madura di Semarang jauh lebih enak dari soto Madura yang di Surabaya, padahal Surabaya kan lebih deket ke Madura daripada Semarang.. heheh... nggak ada hubungannya, Du....


Resepnya nyusul ya, kerpekannya ketinggalan di rumah, yang jelas, kalau ada masalah dengan kadar cholesterol dalam tubuh, jangan makan soto ini :D


Sesuai janjiku, ini resepnya :

Resep Soto Madura a la Keluarga Cinta

Bahan :

1 kg jerohan sapi (jantung, hati, paru, usus, babat)

Bumbu yang dihaluskan :

10 Bawang merah
5 Bawang putih
5 Kemiri goreng
½ sdm Garam
2 cm Kunyit
½ sdt Ketumbar
½ sdt Merica bulat (atau bubuk kalau tidak punya merica bulat)


Bumbu lain :

3 cm Jahe dimemarkan
3 cm laos / lengkuas
2 btg serai dimemarkan
3 lb daun jeruk purut buang tulang daunnya
5 lb daun salam (3 lembar untuk merebus jerohan, 2 lembar untuk menumis bumbu)
Bawang prei dirajang kasar
Batang seledri biarkan utuh

Pelengkap :

Brambang goreng
Daun seledri dirajang agak kasar
Jeruk nipis potong potong
Sambal cabe rawit

Sambal Soto :

Haluskan :

2 butir kemiri goreng

1 butir bawang putih goreng

10 cabe rawit merah kukus (atau sesuai selera)

Garam sedikit


Cara membuat :

Cuci bersih jerohan, rebus / presto dengan diberi 3 lembar daun salam sampai setengah empuk, potong potong. Saring kaldunya.

Tumis bumbu halus dengan margarine, masukkan jahe, laos dan bumbu daun (daun jeruk, daun salam, serai, bawang prei dan batang seledri), tumis sampai sampai wangi dan bumbu matang

Masukkan jerohan, tumis sebentar

Masukkan air kaldu atau air putih biasa kalau tidak mau sotonya terlalu berminyak.

Masak sampai jerohan empuk dan bumbu meresap. Tambahkan garam lagi kalau perlu.

Sajikan soto dengan ditaburi brambang goreng, rajangan daun seledri, jeruk nipis dan sambal.

** kalau suka bau rempah, boleh ditambahkan 2 butir cengkeh.

Monday, 2 March 2009

Soto Ayam

soto daging (dada ayam) cak To, pilihanku







soto jerohan ayam cak To, kesukaan Pok






Dulu pertama kali pindah ke Surabaya, aku heran, kok orang Surabaya seneng banget makan soto yang nggak putih bening seperti sotonya orang Jawa Tengah. Maklum, lidah Semarangan masih belum bisa menerima soto yang beda dari soto Bangkong yang dibuat tanpa kunir, pakai taoge dan seger banget.


Tapi karena teman teman, dan sekarang suami, seneng soto ayam Surabaya, lama lama jadi terbiasa dan bisa menikmati kelezatannya. Tapi, kalau pulang kampung, aku masih merasa wajib memuaskan rindu dengan makan soto Bangkong, soto Pringgading atau bahkan soto ayam yang lewat depan rumah Mamie, walaupun kata Mamie dan Pok, nggak enak blas..heheh.



Cicikku, si Renny yang tinggal di Jakarta juga sama penyakitnya, tiap pulang kampung pasti ngajakin makan soto Semarang. Mamie sampai geleng geleng dan agak kesal kalau kami berdua pulang dan beli soto ayam ideran ini.. Kesalnya karena setelah kami berdua pulang ke Jakarta atau Surabaya, pak soto ideran masih ribut teng teng teng teng mangkoknya di depan rumah Mamie, berisik banget, ngirain kami masih ada...heheh...sabar ya, Mam dan tolong maklumi, lidah kami ini memang lidah setia, bertahun tahun di negeri orang juga masih kangen masakan kampung halaman yang Mamie anggap nggak enak sama sekali ...


Nah, kembali ke soto Surabaya. Kami ,keluarga Cinta, punya 2 langganan soto ayam di Surabaya.



Yang pertama, sebenarnya yang paling enak, namanya soto Lamongan pak Salam, di daerah Bratang. Tapi bukanya hanya sore sekitar jam 3, sampai malam. Satu lagi, cak To, di Rungkut Industri IV, belakang kantorku. Masing masing punya keunikan sendiri. Kalau pak Salam, ini langganan Pok - suamiku sejak masih kuliah di ITS. Rasanya sedap dan porsinya besar, biasanya sampai luber mangkoknya. Harganya sekitar Rp 5,000 per porsi. Kerupuk udangnya besar dan mantap. Konsumennya kebanyakan mahasiswa. Tapi sayangnya, jualannya di pinggir got yang bauuuuuuuuuuu banget. Biasanya kami makan di sini setelah belanja buku di Uranus atau Petra Toga Mas, karena jauh dari rumah. Di sebelah warung soto ini ada penjual es campur, jadi mereka ber simbiosis mutualisme. Cinta menyebutnya soto Got pak Salam.

di belakang gerobag itu ada kali yang baunya 'fantastis' :)

Kalau Cak To, karena setiap hari kerja di lewatin waktu berangkat kekantor, lebih sering kami datangi. Lokasinya di pinggir danau buatan SIER yang kalau pagi masih banyak burung burung mencari ikan, diseberang masjid SIER yang penyelesaiannya sepertinya istana belum jadi yang sudah ditinggalkan Sangkuriang lantaran ngambeg, Dayang Sumbi keburu datang , alias mangkrak nggak selesai bertahun tahun :D, di bawah deretan pohon flamboyant yang rimbun. Asri banget. Biasanya seminggu 2 - 3x kami, saya dan suami makan di sini. Untuk Cinta, biasanya dibeliin telur muda dan kuah saja dan dimakan di rumah, karena Cinta masih belum enjoy makan di warung atau di restoran. Mending maem di rumah sambil main.



Khasnya cak To,kuahnya kuning bening, seledri dan poya (atau koya) nya bebas nambah, disediakan dalam mangkok kecil kecil. Stok poya cak To sendiri ada 1 toples besar. Dan lauknya kita bebas customize.


poya (a.k.a. koya)


Yang suka krokot krokot, ada kepala, leher dan cakar. Yang suka jerohan dan kulit, tersedia lengkap setelur mudanya. Kalau soal rasanya sih, nggak terlalu special menurut saya. Dan jangan harap bisa makan dengan table manners yang benar di sini. Karena nggak disediain garpu, hanya sendok makan pipih aja, jadi kalau mau ambil nasi soto yang tinggal sedikit di mangkok harus dibantu kerupuk. Nah kerupuknya juga kerupuk terung biasa, yang kalau kita makan disana terlalu pagi, dapatnya kerupuk kemarin yang seringnya melempem. Dan kalau lagi musim hujan, kerupuknya banyak yang bantet. '



Harga per porsi, variatif…karena kalau yang njualin beda, harganya juga beda, jadi agak agak kurang standard gitu. Tapi kalau dihitung sepertinya 1 mangkok soto dengan lauk daging ayam Rp 6,000, kalau pakai jerohan dan kulit jadi Rp 7,500. Begitu datang, tanpa harus meminta kita langsung disodori 1 botol teh fresh tea. Pilihan minumannya hanya fresh tea atau tidak sama sekali. Uniknya, semua pelanggan disini adalah pelanggan yang setia. Maksudnya tiap kali makan soto dijam yang sama, hari apapun (kecuali week end), ketemunya juga wajah wajah yang sama.Kapan kapan mungkin bisa dibuat cak To fans club… :D.


Oiya, cak To buka mulai jam 6 pagi sampai jam 3 sore, setiap hari kecuali hari Minggu dan hari libur Muslim.

Sunday, 23 March 2008

Soto gurih

Langganan soto saya di Surabaya pernah membocorkan rahasia untuk membuat kuah soto yang gurih, yaitu pakai dagingnya ikan bandeng atau udang atau ikan pindang (bisa pindang salem atau pindang tongkol) yang digoreng kering trus diulek halus, campurkan waktu menggongso bumbu halusnya. Hasilnya kuah soto akan gurih.

Ada juga penjual soto yang memasukkan utuh utuh ikan bandeng di dalam panci kuahnya. Tapi kalau yang ini agak agak risky, karena bisa jadi pembeli kelolotan duri bandeng yang seabrek itu.