Monday, 8 March 2010

HMFF (Home Made Food Fiesta) perdana NCC Surabaya


Luar biasa...itu yang ada dipikiranku waktu HMFF perdana NCC Surabaya bisa terlaksana pada tanggal 7 Maret 2010 kemarin. Dimulai dengan usul iseng iseng berhadiah, member NCC Surabaya yang selama ini hanya bisa membayangkan kemeriahan HMFF NCC Jakarta, akhirnya terlaksana juga acara tahunan khas NCC (Natural Cooking Club) asuhan ibu Fatmah Bahalwan dan mas Wisnu ini.

Buat pemanasan, kami sudah mengadakan Kopdar NCC Surabaya tanggal 21 February 2010 dan sukses. Koordinasi hanya lewat milis NCCSurabaya yang dibuatkan oleh mas Wisnu, diketuai oleh Shirley Theresia, dibantu oleh Amy, Devi Praz, Hepi, Nadira, myself, dan teman teman lain, disupport oleh Vivi Liong, Pemred Lezat dan difasilitasi oleh mbak Tuti, CNI, acara yang berlangsung mulai jam 12:00 (lebih lebih dikit lah...soale nunggu bu Fat &  group yang habis ngajar di Arvian) ini berakhir jam 18:00 di Gedung CNI jalan Arjuno 154 Surabaya.



Gedung CNI memiliki 3 lantai. Lantai 1 disiapkan untuk menampung anak anak yang ikut. Panitia CNI sudah mempersiapkan film untuk ditonton dan permainan untuk menghilangkan kebosanan mereka.





Lantai 2 untuk lomba dan kursus food photography






Nah, di lantai 3, tempat yang paling rame...


Begitu menginjakkan kaki di lantai 3 para hadirin disambut oleh Endang Paloepiningrum yang siap dengan name tag, daftar hadir dan kotak untuk saweran



Tabloid Lezat juga buka gerai menjual tabloid, dvd dan majalah




Acara pertama adalah, menata dan photo photoan potluck. Setiap peserta yang hadir diminta untuk membawa potluck, home made kalau bisa, beli juga nggak papa kalau terpaksa :). Mbak Tuti berkali kali nambah meja karena banyaknya potluck yang terus berdatangan.











































the famous sirup Mimosa bawaan Yvonne Fransisca












































Mohon maaf kalau ada yang potlucknya kelewat nggak kepotret ya...

Selesai menata potluck, peserta digiring ke ruang serba guna CNI. Pak Yudhi, mbak Tuti dan mbak Hanna dari CNI memperkenalkan produck Nutri 10-meal, cereal yang dijadikan bahan utama lomba HMFF. Tidak sedikit peserta yang baru mengenal product ini, karena itu CNI juga menyediakan sample untuk dicicipi. Mbak Tuti malah sempat mendemokan brownies dengan menggunakan Nutri 10-meal, tapi nggak boleh ditiru waktu lomba..heheheh...







Dilanjut dengan icip icip potluck jam 14:00 (untung sudah dipesenin oleh Shirley untuk makan dulu sebelum datang di HMFF....kalau enggak pasti perut sudah perih..qiqiqi). Para peserta dan keluarganya makan dengan sangat teratur, sambil berchit chat...






Waktu untuk icip icip potluck habis, jam 15:00 lomba dimulai. Peserta bersiap di meja masing masing, memeriksa bahan, nyari bahan tambahan.... Aba aba diberikan....dan peserta mulai beraksi. Dalam waktu 1 jam, semua beres.



pak Andri dari Ngawi, pemenang pertama


Tjita pemenang ketiga



Fifi Gresik dan kreasinya




Fitri Potato stick & karyanya





diriku, Cinta, dan kreasiku, banana pudding




Yang di atas ini bolu gulung kreasi Rachmah, sayang orangnya lupa di photo..



Rita He, yang aku 'paksa' ikut lomba..hihih....nggak nyesel kan Rit?


Shirley & hasil tangannya


Vivi Liong dan pinky bearnya



Widya dan pancakenya


**urutan photo adalah alphabetical, maaf kalau ada yang nggak sempat ke photo**


Mereka yang nggak ikut lomba setia menemani....




Endang Paloepiningrum & Onny Asri






Seperti biasa, tidak ada momen yang terlewatkan dari kamera...habis lomba, jeprat jepret dulu...



Setelah 60 menit, para peserta diminta untuk meninggalkan meja masing masing, dan para juri mulai bekerja...






Selanjutnya , sambil menunggu para juri menentukan siapa pemenangnya, para peserta digiring kelantai 3(lagi). Acara bagi bagi doorprize dan bagi bagi pesanan chocolate sheet, apron, sirup mimosa dan lain lain. Sambil menyaksikan  mbak Tuti bagi bagi doorprize, panitia dari NCC sibuk membagi left over potluck di ruang sebelah, dan yang lain memanfaatkan waktu ngobrol seru banget dengan teman teman baru yang selama ini hanya dikenal lewat milis.


Acara terakhir adalah pengumuman pemenang.... Bu Fat mengumumkan juara pertama pak Andri, kedua mbak Yully MH dan Tjita. Sayang saat ini Cinta sudah mulai rewel karena ngantuk kecapaian sehingga aku tidak bisa memotret para pemenang doorprize dan juara lomba masak HMFF.

Acara ditutup sekitar jam 18:00 dengan diiringi gerimis yang akhrinya berubah jadi hujan lebat, kami pulang dengan membawa kenangan manis, potluck, hadiah dari CNI dan NCC. Sungguh rasanya jadi ketagihan pengen sering sering kumpul dengan teman teman NCC ini. Baru selesai acara sudah ingin ketemuan lagi, orang Jawa bilang 'tuman' :D

Terimakasih buat pak Yudi, mbak Tuti, mbak Hanna CNI, untuk semua staff dari tempat parkir sampai ke lantai 3 yang dengan sangat ramah dan helpfull membantu kami mengangkat barang, menunjukkan tempat, memberi informasi dan menjagai anak anak.

Terimakasih buat bu Fat, Riana, Ita, Citra yang bela belain datang dari Jakarta pagi itu, mas Wisnu, yang walaupun nggak ikut datang tapi banyak sekali memberikan support dan sumbangan pikiran.

Terimakasih buat semua yang sudah hadir di HMFF Surabaya. Buat persahabatan yang hangat ini.

Terimakasih buat Sri Beijing yang datang jauh jauh dari PRC sana, dan waktu aku ikut lomba beliau berkeliling mengabadikan acara lomba ini, kalau tanpa dia pasti aku nggak punya photo photo di atas :D

Terakhir, terimakasih buat rekan rekan panitia HMFF, Shirley, Devy, Hepi, Amy, Nadira, Vivi, Widya, semuaaaaaaanya tak terkecuali. I love you all. Muach..muach...

Sampai ketemu di waktu dekat ya... God bless you all.

Beetroot, pewarna merah alami


Ini adalah penampakan beetroot ( Beta vulgaris atau sering juga disebut 'bit'), umbi yang berwarna merah tua. Umbinya renyah dan manis seperti bengkoang.

Menurut Wikipedia, "Bit gula (Beta vulgaris) adalah sebuah tanaman berbunga dalam familia Chenopodiaceae[1], yang aslinya berasal dari daerah pesisir barat dan selatan Eropa, dari Swedia selatan dan Kepulauan Britania ke selatan Laut Mediterania. Tanaman ini penting karena varitasnya yang dikembangkan, fodder beet, bit dan bit gula yang menghasilkan gula"

Beberapa orang menggunakan beetroot ini untuk campuran salad dan pewarna merah alami untuk makanan. Ada juga yang bilang beetroot bisa mengobati kanker dan beberapa macam penyakit lainnya.

Aku beli beetroot ini karena mau nyoba bikin Red Velvet Cake a la mbak Ria Chocoloveid. RVC yang berwarna merah genjreng ini resep aslinya menggunakan pewarna makanan yang banyak sekali (sampai 80ml), tapi oleh mbak Ria di modifikasi menggunakan beetroot. Waktu dimasak, baunya memang agak kurang enak, tapi setelah jadi cake, bau nggak enaknya hilang, dan cakenya wuenaaaaaaak banget.

Cerita soal RVC nyusul ya, photonya belum di edit.

Friday, 5 March 2010

Akhirnya nemu bukunya Manfred Lange untuk Bogasari Baking Center


Sudah lama lihat buku ini di blognya Alm. Inong. Kepengen banget punya, tapi nggak pernah bisa nemuin tiap kali ke bookstore. Nitip sana sini juga nggak dapat. Eh, semalam waktu ke Giant Pondok Chandra, aku lihat di rak buku....kebetulan ada 1 buku yang memang sengaja dibuka segelnya...lihat sebentar untuk memastikan bahwa ini adalah buku yang aku cari selama ini....trus langsung beli deh.

Buku yang disusun oleh Manfred Lange untuk Bogasari Baking Center ini isi bukunya bagus banget. Aneka macam roti. Step by stepnya jelas. Nggak heran direkomendasikan oleh Alm. Inong. Diterbitkan pertama tahun 2004 dan cetakan kedua tahun 2006. Published by Gaya Favorite Press. Harganya, kalau di Giant kemarin Rp 72,000.

Konon katanya buku ini adalah text book para murid sekolah Bogasari Baking Center, tapi bahkan di perwakilan BBC di Surabaya nggak ada.


                       

Nah, selain buku itu, aku beli juga buku Pastry ini, masih punya Manfred juga. Isinya? Wuapikkkkkkkkkk....... worth buying deh. Harganya Rp 85,000.


Wednesday, 3 March 2010

Pembalasan sang pastel tutup


Judulnya serem ya…padahal ceritanya biasa aja…hehehehe…soal pesanan patel tutup.

Jadi ceritanya, setelah menerima kejutan hadiah ulang tahun berupa pastel tutup beberapa waktu yang lalu, Nunung, the birthday girl gantian mengirimkan pastel tutup kejutan untuk sang secret sender (S3) - yang akhirnya ternyata  nggak secret lagi - yang berulang tahun hari ini.



Tadi pagi aku buatkan dan kirimkan pastel tutup ini ke rumah S3 yang hanya berjarak 5 blok dari rumahku. Waktu aku kirim, S3 sudah berangkat kerja, jadi si mbaknya yang terima. Maksa tanya dari mana…hehehe…aku bilang dari temen kantornya, wajah si mbak rada bingung sambil ngelihatin bajuku, mungkin karena aku sudah pakai seragam kantorku…kok teman sekantor seragamnya nggak sama dengan seragam bossnya mungkin begitu pikirnya. Setelah aku bilang, aku ini yang mbuatin bukan yang ngasihin baru dia tersenyum mupakat.



Inilah paket pastel tutup the Tiny Bites yang dibuat dengan resep rahasia Keluarga Cinta...jiyaaah...:D. Pastel tutup dalam aluminium foil, plus 2 cup isiannya yang rasanya sedikit berbeda dengan yang ada di dalam pastel dilengkapi dengan sambal botol dan petunjuk bagaimana harus memperlakukan pastel tutup dengan baik dan benar.



Dah, sekarang keduanya sudah saling berbalas pastel tutup...nggak usah nunggu ulang tahun lagi kalau pada mau pesen ya... :D

Thank you, Nung..

Monday, 1 March 2010

Limpang limpung Cempedak



Dua minggu yang lalu aku dan Mr, Phang dapat oleh oleh cempedak dari pak Tim yang tinggal di Bogor.

Waktu datang, cempedaknya masih berwarna kuning muda dengan sedikit semburat warna hijau. Dulu aku pernah makan cempedak, tapi kurang suka. Waktu itu juga dioleh olehin Kokoku yang habis ikut lomba tembak Perbakin di Sumatra (kalau nggak salah :D). Cempedaknya hanya aku makan biasa saja. Rasanya menurutku sih nggak enak. Maklum di daerah tempat tinggalku dulu (Semarang) dan sekarang (Surabaya) cempedak termasuk buah tidak populer. Hanya ada di SPM besar saja, dan baunya nggak asyik...



Karena itu waktu dapat dari pak Tim, aku sempat mikir aku bakalan nggak suka juga, jadi lebih baik aku berikan saja keteman yang mau.. Dan ternyata nggak ada yang mau…keterlaluannnn…. hahaha…diberi kok nggak ada yang mau. Akhirnya cempedaknya aku bawa pulang. Simpan di atas meja. Aku nggak ngerti harus diapakan buah ini.

Beberapa hari kemudian Mr. Phang cerita kalau cempedaknya yang masih belum matang benar sudah diolah oleh Ibu. Bijinya dibuang semua. Dan rasanya tasteless. Beliau wanti wanti supaya aku sabar menunggu sampai cempedakku benar benar matang, kulitnya berwarna coklat kehitaman. Nggak boleh masuk kulkas. Dan tunggu sampai seluruh rumahmu bau cempedak, baru kamu buka. Halah...kok ya beliau tahu aja rumahku cuma seuplik..jangankan cempedak, bau strawberry aja bisa ngabar kemana mana -hyperbola dikit -hehehe...

Dan Mr. Phang bilang, cempedak paling enak digoreng tepung seperti pisang goreng. Bijinya jangan dibuang karena nanti madunya akan hilang. Heee…..tambah nggak napsu aku.. Kebayang lembeknya. Aku pernah makan nangka goreng, dan kurang suka karena lembek (nyunyut sekali). Tapi Beliau bilang ‘trust me !’ Yo wis….

Akhirnya Kamis pagi, setelah aku rasa cempedakku sudah cukup matang (bahkan menjelang kebusukan :D ) aku pecah dan ambil dagingnya. Ternyata nggak sesusah membersihkan nangka. Getah cempedak tidak terlalu banyak.




Sebelum memotong aku lumuri pisauku dengan minyak goreng, supaya getahnya mudah dibersihkan. Daging buahnya memang tipis dan lembek tapi lentur. Tidak makan waktu lama semua daging sudah aku bersihkan. Ngambilin dagingnya nggak perlu pisau, cuma dicuilin aja sudah lepas.



Sambil membersihkan, sempat ngicip juga. Rasanya manis. Jauh lebih enak dari bayanganku. Tapi daminya (dami itu serat serat yang memisahkan daging buah, nggak ngerti bahasa Indonesianya apa :D) nggak bisa dimakan, nggak seperti nangka. Bijinya lebih mirip kluwih (keluarga sukun, berwana hijau yang sering dibuat sayur lodeh)



Simpan dulu di Tupperware karena buru buru ngantor. Eh, jangan dicuci ya...ntar cepet busuk.



Long weekend tetap tersimpan di kulkas karena aku ke Probolinggo nengokin Ibu Mertua.. Senin pagi, aku mikir, kalau nggak cepat cepat diolah bisa beneran busuk nih cempedak. Walaupun gratisan nggak tega juga kalau harus membuang makanan.

Akhirnya aku buatin adonan tepung dan goreng. Sebagian goreng sebijinya, sebagian bijinya aku buang, saking pengen membuktikan kata kata Mr. Phang, yang bahkan di bandara sebelum pulang ke Singapore pun masih mengajari aku cara menggorengnya.




Goreng..goreng..goreng…setelah hangat langsung icip…..ealaaahh….ternyata beneran enak. Dan, seperti wanti wanti Bossku tercinta itu, yang digoreng bersama bijinya jauh lebih manis. Aku tawarin Pok suamiku, ternyata dia suka juga, padahal biasanya kalau makan pisang goreng yang empuk dia nggak mau…ini bukan empuk lagi, tapi lembek, eh dia bilang enak.





Nah, buat yang mau nyoba membuat limpang limpung cempedak alias cempedak goreng, aku share adonan tepungnya ya…seperti tepung untuk menggoreng pisang biasa cuma buat lebih kental.


Bahan :
1 buah Cempedak
300 gr terigu segitiga (kalau pakai Cakra jadi keras)
2 butir telur ayam
+/- 5 sdm gula pasir (kalau terlalu banyak cepat gosong)
½ sdt vanili bubuk
1 sdt garam
Air secukupnya
Minyak untuk menggoreng
Cara membuat :

Aduk rata semua bahan, jangan terlalu cair.
Masukkan cempedak, goreng dengan minyak banyak, panas dan api besar.
Kalau apinya kecil, cempedaknya tambah lembek.
Titiskan.
Sajikan.

 
ini cempedak yang digoreng berbiji...lebih manis.
 
 
 
Ajaibnya, perutku bisa menerima cempedak...mungkin karena nggak banyak gasnya :).
 
Kayaknya lain kali nggak bakalan nolak kalo ada yang kasih oleh oleh cempedak nih...

Hari Senin, waktunya tukeran oleh oleh...


Hari Senin di Pantry Kantor adalah tempat berkumpul yang sangat menyenangkan. Banyak orang berkumpul, rame cerita soal liburan, dan banyak oleh oleh yang dibawa oleh teman teman para petugas pantry, kebersihan, operator dan office boy yang baru pada pulang kampung, terutama setelah long weekend seperti minggu lalu.

Ada yang bawa brownies kukus, getuk,bubur, rengginang, buah buahan dan lain lain. Seperti potluck aja, dimakan rame rame sambil buat kopi sebelum mulai sibuk kerja. Khusus untuk aku, kali ini pak Bun, pantry lantai 2 membawakan 2 tas kresek oleh oleh dari Madura, kampung halamannya. Yang satu berisi srikaya dan satunya lagi berisi kedondong. Pak Bun tahu aku seneng banget sama kedondong dan susah dapat yang bagus di Surabaya, jadi biarpun berat dia bela belain bawa dari sana, hasil kebunnya sendiri.

Katanya sebenarnya mau bawa 1 whole besar nangka, cuma nggak sanggup bawanya naik motor. Padahal di desanya sana nangka masak dibuang buang, saking banyaknya, sampai diberikan untuk makan sapi.....hehehe...beruntung benar sapinya pak Bun...di Surabaya mahal loh, pak.... Tapi untung juga nggak dibawain nangka, soalnya sekarang perutku nggak kuat kalau makan nangka. Mulut pengen, perut nggak sanggup.



Srikayanya masak pohon, agak ancur ancur karena pak Bun pulang kampungnya naik motor :). Tapi rasaya manis sekali. Dagingnya juga tebal. Kulitnya bisa dikupas sekaligus, tidak per mata, jadi bisa dimakan dengan sendok kalau tidak mau tangan kotor.

Yang kedondong, sekilas penampilannya seperti kedondong yang belum tua. Kulitnya hijau mulus, ukurannya tidak terlalu besar. Yang aku tahu selama ini kedondong yang tua kulitnya kasar dan ada seperti lapisan coklatnya. Tapi ternyata kedondong Madura ini sudah tua, tidak asam dan dagingnya sudah berwarna kekuningan. Kedondong yang masih muda dagingnya berwarna putih.



Nggak tahan lihat kedondong, langsung tadi pagi aku bikin sambalnya, kecap manis, gula pasir dan garam...harusnya pake cabe rawit, tapi nggak punya :)

Pagi pagi 'ngerujak di kantor deh... :D



Herannya, semua buah yang dari Madura kok pasti manis ya. Jambu air, sawo, nangka, kedondong, mangga, duwet....nggak ada yang nggak enak. Sayang transportasi keluar Madura tidak murah, sehingga buah buahan tersebut tidak bisa dijual dengan harga yang pantas di luar daerahnya. Lebih banyak dibiarkan busuk dipohon.

Dendeng Bee Cheng Hiang


Sudah beberapa kali Mr. Phang, bossku yang tinggal di Singapore bercerita kalau di Singapore ada dendeng babi yang sangat enak. Mendekati hari raya Imlek, toko dendeng ini ramai sekali, yang mau beli harus rela ngantri panjang. Selama ini aku cuma mikir, seenak enaknya dendeng tuh paling ya gitu, manis, gurih dan kalau yang buat pinter, dagingnya empuk :). Nggak ada keinginan sedikitpun untuk nitip teman atau saudara yang lagi ke Singapore.

Nah, setelah liburan Imlek kemarin, Mr. Phang datang ke Surabaya dan beliau membawa beberapa tas dendeng yang tersohor ini masing masing berisi 1 kg, untuk aku dan beberapa teman yang selama ini sangat dekat dengan beliau.

Pesannya, ini dendeng bisa dimakan langsung tapi juga tahan lama kalau di simpan di kulkas, kalau mau makan, tinggal di microwave sebentar, tapi waktu itu Beliau nggak bilang sebentarnya tuh berapa lama :). Aku titipkan dendeng ini di kulkas pantry.

Karena kesibukan kerja, seminggu kemudian baru aku ingat soal dendeng yang masih duduk manis di dalam kulkas pantry dalam keadaan kaku. Waktu makan siang, aku coba hangatkan dengan microwave selama 2 menit. Ternyata...gosong dengan sukses !. Kelamaan menghangatkannya.

Coba lagi 1 menit saja, dan ternyata, bener bener wuenakkkkkkkkkkk. Tidak seperti dendeng sapi biasa yang dijual di sini. Ada rasa asapnya, empuk walau irisannya tebal dan manisnya pas.




Konon katanya dendeng ini sudah tersedia juga di Jakarta.